Alarm Antimaling yang Murah Meriah

Empat mahasiswa Undip menciptakan alarm sepeda motor Iptek Alarm Antimaling yang Murah Meriahyang murah, tapi andal.
Gelar juara lomba karya ilmiah pun mereka sabet.

Punya sepeda motor bagus memang menyenangkan. Apalagi, kalau masih mulus dan jalannya kencang. Tapi, sepeda motor seperti itu sekaligus bikin dek-dekan pemiliknya. Maklum, kendaraan itu bisa menjadi sasaran empuk para maling. Lengah sedikit, bisa-bisa sepeda motor kesayangan amblas diambil orang. Untuk mencegah pencurian, berbagai alat pengaman memang tersedia di pasar, mulai dari alarm motor yang menggunakan remote control sampai kunci dingdong. Sayang, selain cukup mahal, pengaman semacam itu mudah dijebol maling kelas kakap.

Kenyataan itulah yang membuat kesal Min Mursandi, mahasiswa elektro Universitas Diponegoro. “Di kampus ini, paling tidak, tiga-empat sepeda motor hilang dicuri. Padahal, motor-motor itu diberi pengaman,” kata mahasiswa yang biasa disapa Sandi itu. Dari situlah muncul ide untuk membuat alarm motor yang tidak bisa dijebol maling, tapi murah, sehingga bisa dijangkau mahasiswa.

Bersama teman-temannya–Yudhi Wismono, Tejo W., dan Zuli Istataqomawan–Sandi mencoba menciptakan pengaman canggih sepeda motor. Dalam waktu satu bulan, keempat sekawan yang bergabung dalam Tim Electrical Workshop Undip itu berhasil menciptakan alat pengaman sepeda motor tanpa menggunakan saklar, melainkan pedal rem sebagai kode sandi. Alatnya terdiri dari dua bagian. Display sandi diletakkan di penunjuk kecepatan (spedometer), sementara pengamannya diletakkan terpisah, tergantung pada keinginan. Alat itu terbilang mungil, 8 x 10 sentimeter, tak lebih dari telapak tangan orang dewasa.

Lantas, di mana kelebihannya? Pertama, ia melekat pada motor, sehingga tidak memerlukan sentuhan akhir seperti pengaman yang menggunakan remote control. Kedua, alat itu tidak menggunakan saklar, sehingga tidak mudah dibaca pencuri. Kelebihan ketiga, tentu saja, soal harga. “Paling-paling memerlukan sekitar Rp 30 ribu-Rp 50 ribu,” kata Sandi yang mengaku menghabiskan Rp 110 ribu untuk menciptakan alat itu.

Prinsip kerja alarm itu pun sebenarnya sederhana, yakni menggunakan generator sinyal yang mengeluarkan gelombang dalam frekuensi tertentu. Generator sinyal itu kemudian dimanfaatkan untuk menggerakkan suatu relay. Agar generator bisa bekerja, dipakailah rem motor, bisa rem tangan atau rem injak. Dari situlah sinyal itu masuk dalam suatu rangkaian alat pencacah. Fungsinya untuk mengubah angka sandi menjadi data biner paralel. Data biner itu kemudian masuk ke suatu rangkaian yang dibagi dalam dua blok peraga dan pembanding. Peraga yang dipakai berupa 16 buah lampu LED yang bisa ditempatkan di spedometer. Keluaran dari blok pencacah itu lantas dicocokkan dengan nomor sandi. Jika keluaran pencacah sama dengan data yang dimasukkan, motor bisa hidup Bila datanya tidak sama, alarm akan berbunyi sampai aki habis. “Sistem pengamanan ini masih bisa dikembangkan, misalnya gigi persneling mengunci dengan sendirinya,” kata Sandi

Prosedur penggunaan alat itu pun tidak sulit. Langkah pertama, cukup mengatur kunci kontak pada posisi “on”. Setelah itu pedal rem ditekan sampai lampu LED menunjukkan level tertentu. Berikutnya, tekan tombol klakson untuk memasukkan kode sandi. Setelah semua beres, motor bisa dijalankan. “Bentuk sandi itu bukan angka, tapi posisi jarum pada spedometer,” katanya. Dengan sistem seperti itu, orang tidak akan curiga bahwa motor itu memiliki alarm. Sebab, sekilas orang tidak melihat alat pengaman itu.

Hasil ciptaan empat serangkai itu kemudian disertakan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke-13, akhir bulan lalu. Hasilnya, ciptaan mahasiswa Undip itu dinyatakan sebagai juara I. Sebagai langkah selanjutnya, Sandi dan kawan-kawannya kini tengah mengembangkan alat itu. Karena rencananya akan dipasarkan, mereka kini tengah mengurus hak paten dan melobi beberapa perusahaan untuk memproduksi hasil temuan mereka. “Kemarin sudah ada perusahaan kontraktor di Jakarta yang menawari kami,” kata Sandi.

Sri Raharti dan Khairul Rosyadi (Semarang)

*dimuat ulang dari Forum Cybernews
Iptek – Edisi Tahun VIII No. 49 – 19 Maret 2000

Dari Pengaman Kendaraan sampai Kentongan Matematika

 Dari Pengaman Kendaraan sampai Kentongan Matematika Pimnas XIII di UI baru-baru ini menjadi milik mahasiswa Semarang. Undip menjadi juara umum dengan meraih Juara I LKIP Saintek dan Kesehatan, serta Juara III LKTI IPS. Sedangkan Unnes merebut Juara I LKIP Bidang Pendidikan. Berikut catatan ringan tentang beberapa karya ilmiah tersebut.

ANGKA kasus pencurian kendaraan bermotor sangat tinggi, bahkan cenderung meningkat. Berbagai peralatan dicoba untuk mengamankan, agar tidak dibawa lari pencuri. Mulai kontak diganti kunci dingdong hingga dipasangi gembok.

Namun pepatah mengatakan, pencuri selalu selangkah di depan. Mereka sanggup membuka pengaman-pengaman tersebut. Tetapi jangan khawatir. Kini ada alternatif yang bisa dicoba, yakni memberikan password pada kendaraan.

Dengan cara baru itu Anda yang akan pegang kendali. Sistem pengamanan kendaraan yang dikembangkan oleh empat mahasiswa Jurusan Teknik Elektro Undip mengantar mereka menjadi Juara I LKIP Sain Teknologi Pimnas XIII di Jakarta.

”Sistem sepeda motor tergantung pada sistem pengapian. Jika sistem pengapian mati, maka tidak dapat berjalan. Dengan memberikan saklar kode sandi tertentu untuk memutuskan aliran arus pada CDI, kita dapat membuat pengaman yang andal,” kata Koordinator Mien Nursandi.

Apabila kita salah memasukkan kode sandi, maka alat itu akan menggerakkan alarm. Kalau kode sandi benar, kita dapat menjalankan sepeda motor itu. Dengan kode sandi yang dapat diprogram pemiliknya dapat menambah rasa aman.

”Alat ini pengaman yang praktis, sederhana, serta ekonomis karena mudah dijangkau masyarakat luas. Nanti dapat dikembangkan pada jenis kendaraan bermotor lain,” lanjutnya.

Jika pencuri mencoba menghidupkan kendaraan secara paksa dengan kunci sepeda motor tanpa kode sandi, maka motor tidak akan dapat dihidupkan. ”Namun kalau pencuri berhasil menghidupkan maka alarm akan berbunyi sehingga akinya habis,” tambahnya.

Murah

Alat pengaman ini bentuknya kecil sehingga dapat disembunyikan. Soal harga, dia mengatakan apabila dikalkulasi cukup murah karena bisa menggunakan komponen-komponen yang sudah ada dalam kendaraan itu sendiri.

”Saat kami praktek biaya yang diperlukan Rp 100.000. Namun bila diperhitungkan lagi biaya itu bisa di bawah Rp 50.000. Cara membuatnya pun mudah karena hanya menggunakan kabel-kabel di bagian rem dan alarm,” lanjutnya.

Sementara itu ide tim Undip lain yang berhasil meraih Juara I LKIP Bidang Kesehatan bermula dari banyak debu dan kotoran di tempat penggilingan. Debu-debu itu sering menyebabkan penyakit bagi para pekerja yang tiap hari berada di sana.

”Dari kuesioner yang kami sebarkan, mereka mengaku sering terkena influensa, sakit kulit, bahkan paru-paru. Untuk itu kami mencoba mencari cara mengendalikan debu itu sehingga risiko terkena penyakit dapat ditekan,” tutur Koordinator Budi Aji.

Hasil penelitian mereka menunjukkan alat yang dibuat bisa menurunkan kadar debu udara dalam ruangan sampai berada di bawah ambang batas yang ditetapkan Menaker, yakni 5 mg/m3.

Tes efektif menunjukkan sebelum ada alat pengendali debu, kadar debu udara mencapai 10,45mg/m3. Setelah penerapan kadarnya itu menjadi 4,45 mg/m3 pada hari pertama dan menurun pada hari-hari berikutnya, yakni 3,95 mg/m3 hari kedua dan 3,45 mg/m3 hari ketiga.

”Selain itu setelah diberi alat ini pekerja merasa lebih nyaman karena tidak lagi terkena paparan bekatul,” tuturnya.

Peralatan yang digunakan sangat sederhana dan cocok digunakan pada industri penggilingan padi.

Sementara itu karya ilmiah mahasiswa Unnes yang meraih Juara I Bidang Pendidikan bertujuan meningkatkan pembelajaran Matematika pada siswa SD kelas II.

”Dari hasil penelitian yang pernah dilakukan, 75,75% anak SD merasa takut pada Matematika. Karena itu, guru sebagai pendidik harus lebih kreatif dalam kegiatan belajar mengajar,” tutur anggota tim Ana.

Menanamkan konsep pada siswa SD tidak mudah karena mereka masih berada dalam tahap konkret. Untuk itu, mereka mencoba dengan kentongan Matematika. Metode itu perbaruan sistem lidi yang sudah sering digunakan.

”Kalau menggunakan lidi maka siswa sering kesulitan apabila operasinya mencapai ratusan. Mereka akan kerepotan membawa lidi sebanyak itu. Kentongan itu untuk menyederhanakan karena bisa dibagi tiga untuk tempat ratusan, puluhan, dan satuan,” tambah PD III FMIPA Drs Pratjojo MPd.

Selanjutnya siswa tinggal meletakkan batang-batang operasi pada kentongan itu. Mengapa kentongan digunakan? Media itu diharapkan menarik perhatian karena sebelumnya kentongan akan dipukul lebih dulu, baru operasi dilakukan.

Saat sebelum berangkat ke Jakarta, Tim Unnes khawatir karena salah seorang anggota tim, Endang, sakit selama satu minggu.

”Semula tim deg-degan juga, bagaimana ini, satu anggota masih sakit. Tetapi untunglah, menjelang presentasi di Jakarta, dia sembuh dan bisa berangkat ke sana. Hasilnya, pulang juara,” katanya.(Sri Syamsiyah LS-53b)

*dimuat ulang dari www.suaramerdeka.com Rabu,8 Maret 2000

High Speed Lay Out Design (DDR2 Application)

DDR2-533 Memory Design Guide for Two-DIMM Unbuffered Systems

Overview
DDR2 memory busses vary depending on the intended market for the finished product. Some products must support four or more registered DIMMs, while some are point-topoint topologies. This document focuses on solutions requiring two unbuffered DIMMs operating at a data rate of 533 megabits per second (Mb/s) and is intended to assist board designers with the development and implementation of their products. The document consists of two sections. The first section uses data gathered from a chipset and motherboard designed by Micron to provide a set of board-design rules.
These rules are meant to be a starting point for a board design. The second section details the process of determining the portion of the total timing budget allotted to the board interconnect. The intent is that board designers will use the first section to develop a set of general rules and then, through simulation, verify the design in their particular environments.

Introduction
Systems using unbuffered DIMMs can implement the address and command bus using various configurations. For example, some controllers have two copies of the address and command bus, so the system can have one or two DIMMs per copy, but never more than two DIMMs total. Further, the address bus can be clocked using 1T or 2T clocking. With 1T, a new command can be issued on every clock cycle. 2T timing will hold the address and command bus valid for two clock cycles. This reduces the efficiency of the bus to one command per two clocks, but it doubles the amount of setup and hold time.
The data bus remains the same for all of the variations in the address bus.
This design guide covers a DDR2 system using two unbuffered DIMMs, operating at a 533Mb/s data rate and two variations of the address and command bus. The first variation covered is a system with one DIMM per copy of the address and command bus using 1T clocking. A block diagram of this topology is shown in Figure 1 on page 2. The second variation is a system with two DIMMs on the address and command bus using 2T clocking topology, as shown in Figure 2 on page 3. Please note that the guidelines provided in this section are intended to provide a set of rules for board designers to follow, but it is always advisable to simulate the final implementation to ensure proper functionality.

DDR2 Signal Grouping
The signals that compose a DDR2 memory bus can be divided into four unique groupings, each with its own configuration and routing rules.
• Data Group: Data Strobe DQS[8:0], Data Strobe Complement DQS#[8:0 (Optional), Data Mask DM[8:0], Data DQ[63:0], and Check Bits CB[7:0]
• Address and Command Group: Bank Address BA[2:0], Address A[15:0], and Command Inputs RAS#, CAS#, and WE#.
• Control Group: Chip Select S[3:0]#, Clock Enable CKE[3:0], and On-die Termination ODT[3:0]
• Clock Group: Differential Clocks CK[5:0] and CK#[5:0]

Board Stackup
A two-DIMM DDR2 channel can be routed on a four-layer board. The layout should be done using controlled impedance traces of Zo = 50Ω (±10%) characteristic impedance. Asample stackup is shown in Figure 3. The trace impedance is based on a 5-mil-wide trace and 1/2 oz. copper with a dielectric constant of 4.2 for the FR4 prepreg material. This stackup assumes that the 1/2 oz. copper on the outer layers is plated, for a total thickness of 2.1 mils. Other solutions exist for achiving a 50Ω characteristic impedance, so board designers should work with their PCB vendors to specify a stackup.

Address and Command Signals – 2T Clocking
On a DDR2 memory bus, the address and command signals are unidirectional signals driven by the memory controller. For DDR2-533 using 2T on the address and command signals, the address and command bus runs at a max switching rate of 133 MHz. The address and command signals are captured at the DRAM using the memory clocks. For a system with two unbuffered DIMMs on a single address and command bus, the loading on these signals will differ greatly depending on the type and number of DIMMs installed. A two-DIMM channel loaded with two double-sided DIMMs has 36 loads on the address and command signals. Under this heavy loading, the slew rate on the
address bus is slow. The reduced slew rate makes it difficult, if not impossible, to meet the setup and hold times at the DRAM. To address this issue, the controller can use 2T address timing—increasing the time available for the address command bus by one clock period. Note that S#, ODT, and CKE timing does not change between 1T and 2T addressing.

2T Address and Command Routing Rules
It is important that the address and command lines be referenced to a solid VDD power plane. VDD is the 1.8V supply that also supplies power to the DRAM on the DIMM. On a four-layer board, the address and command would typically be routed on the second signal layer referenced to a solid power plane. The system address and command signals should be power referenced over the entire bus to provide a low-impedance current return path. The DDR2 Unbuffered DIMMs also reference the address and control signals to VDD so the power reference is maintained onto the module. The address and
command signals should be routed away from the data group signals, from the controller to the first DIMM. Address and command signals are captured at the DIMM using the clock signals, so they must maintain a length relationship to the clock signals at the DIMM.

(continue…)